Adat
kebudayaan yang beraneka ragam di Indonesia khusunya yang ada di kabupaten
Bojonegoro memang sangat beragam, diantara ragam tradisi itu masih ada tradisi atau adat kebudayaan yang masih
lestari di desa atau perkampungan, apalagi di daerah desa yang ikatan tradisi
dan adat nya masih kental. Tradisi sedekah bumi (manganan) atau ada juga yang
menyebutnya dengan nyadran yang pelaksanaannya di setiap desa berbeda, ada desa
yang menyelenggarakan manganan dengan corak nenek moyang yang dahulu menganut
kepercayaan Animisme dan Dinamisme ada juga yang menyelenggarakan dengan corak Islami
atau dengan hasil akulturasi antara kebudayaan nenek moyang dengan ajaran Islam,
manganan yang dilaksanakan dengan corak asli dilakukan dengan menggunakan
sesaji sedangkan manganan yang dilakukan dengan cara Islami biasanya disisipi
pengajian. Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana sedekah bumi (manganan)
sebagai tradisi peninggalan nenek moyang di tengah-tengah keadaan masyarakat
modern nan kritis ini dan juga bagaimana perkembangan tradisi sedekah bumi (manganan)
sebagai tradisi yang masih melekat di masyarakat Bojonegoro ini.
Sejarah
tradisi manganan ini berasal dari generasi terdahulu, khususnya masyarakat
petani yang bersyukur atas hasil panen. Ciri khas perayaan manganan adalah umumnya
diadakan di tempat yang dianggap keramat. Tujuan dari pelaksanaan tradisi
manganan adalah mengucapkan syukur atas karunia Tuhan dari hasil panen, memohon
agar desanya terhindar dari bencana dan penyakit dan memohon agar panen
selanjutnya melimpah. Tetapi karena saat ini mayoritas masyarakat menganut
agama Islam yang melarang menyembah tuhan selain Allah S.W.T, jadi sekarang
tradisi manganan disisipi panjatan do’a kepada Allah S.W.T,
karena diyakini bahwa nenek moyang dulu masih menganut Animisme dan Dinamisme.
Tetapi kebanyakan desa di Bojonegoro masih menyelenggarakan manganan seperti
yang nenek moyang dahulu yaitu dengan mengucap mantra-mantra dan memberi
sesaji. Masyarakat desa berdalih karena untuk melestarikan tradisi persis
dengan nenek moyang terdahulu agar tradisi tersebut tidak luntur. Hal itulah
yang membuat banyak orang, khususnya orang yang paham dengan ilmu agama
meragukan tradisi manganan sebagai tradisi yang masih harus dilestarikan
khususnya di daerah Bojonegoro ini, karena tentu saja hal tersebut bertentangan
dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa hanya Allah S.W.T sebagai tuhan yang
patut disembah tetapi melakukan manganan dengan menggunakan sesaji yang ditaruh
di tempat keramat sama saja mempersekutukan Allah.
Penyelenggaraan manganan di suatu
desa berbeda dengan desa yang lain meskipun dengan tujuan yang sama, sebagai
contoh : manganan di desa A dilakukan di tempat yang dianggap keramat atau
memiliki kekuatan magis seperti kuburan, sumur tua, sendang, pohon tua, dll
dengan menaruh sesaji yang diletakkan di tempat tersebut lalu ada tokoh desa
yang memimpin ritual biasanya dengan mengucap mantra dalam bahasa daerah yang
bermakna memohon keselamatan desa dan keberkahan bagi desa, setelah itu akan
diadakan pagelaran wayang atau pementasan tari tayub, sedangkan pelaksanaan
manganan di desa B dilakukan di musholla atau masjid, di tengah-tengah ritual
manganan di desa ini masyarakat membaca doa-doa syukur kepada Allah. Dengan
ilustrasi sederhana tersebut, dapat dilihat perbedaan dalam pelaksanaan tradisi
manganan ini walaupun sebenarnya kedua masyarakat desa itu memiliki kesamaan
budaya, kepercayaan dan berada dalam satu daerah, lalu apakah yang menyebabkan
perbedaan tata pelaksanaan ritual manganan ?. Jika diselidiki dari tradisi
manganan di masa lampau dan perkembangannya, sebenarnya peran wali songo yang
menyebabkan perbedaan pelaksaan tradisi manganan, wali songo menyebarkan agama Islam
dengan mencampurkan tradisi yang sudah ada atau peninggalan agama Hindu dengan
dicampur unsur Islami seperti sholawat dan doa-doa lainnya.
Adat
kebudayaan adalah cerminan identitas suatu daerah atau wilayah, pernyataan
tersebut mengatakan secara tidak langsung bahwa apapun adat atau tradisi yang
ada di daerah tersebut mencerminkan bagaimana keadaan atau sifat daerah itu.
Hal itu berarti manganan sebagai salah satu budaya yang sampai saat ini masih
dilestarikan adalah cerminan identitas kabupaten Bojonegoro. Mengingat fakta
bahwa kebanyakan manganan dilaksanakan dengan cara non-Islami atau lebih
condong ke arah Animisme seperti nenek moyang dahulu, apakah berarti identitas
kabupaten Bojonegoro adalah kabupaten dengan kepahaman agama yang kurang ?.
Tentunya sebagai warga Bojonegoro saya akan menyangkal kenyataan itu, tetapi
tentunya kita tak mengubah sebuah tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat,
apalagi hal ini bersangkutan dengan sistem kepercayaan.
Dengan
mengabaikan sejenak pertanyaan pantas tidaknya tradisi manganan menjadi
identitas kabupaten Bojonegoro, kita dapat menilik sisi positif dengan adanya
tradisi manganan ini maupun itu dari nilai filosofis yaitu menghargai
lingkungan. Hal itu sesuai dengan pendapat Eric R. Wolf tentang ketakutan
petani terhadap kerusakan pada tanaman yang tengah digarapnya karena akan
menimbulkan kerugian sehingga dengan adanya manganan ini, mereka mewujudkan
rasa syukur atas hasil yang dipetik dari buah jerih payah para petani dengan
adanya tradisi manganan yang menyatakan bahwa pandangan manusia terhadap alam
disekitarnya diwujudkan dengan mereka berusaha bagaimana caranya agar alam yang
memberinya penghidupan tersebut tidak rusak dan punah dimakan oleh bencana.
Sehingga antara manusia dengan lingkungan terjadi ikatan emosional timbul oleh
karena tindakan yang tersebut. Lalu dari nilai religius yaitu selalu bersyukur
atas berkah yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, selanjutnya yaitu nilai
sosial atau kemasyarakatan yaitu memupuk kebersamaan dan semangat gotong royong
dengan adanya manganan semua warga desa turut hadir, bertemu dari yang semula
belum mengenal hingga saling mengenal tentunya semua warga desa bergotong
royong untuk menyiapkan ritual manganan ini ,lalu dengan diadakan manganan juga
memberi pembelajaran saling berbagi berhubungan dengan sikap yang timbul ketika
mereka menerima makanan yang telah dibagi adalah rasa senang. Apa pun yang telah
mereka terima tetaplah menunjukkan rasa kebahagiaan. Bukan perasaan menggerutu
terhadap makanan tersebut karena mereka
merasa kemampuan orang berbeda dalam mewujudkan makanan untuk ditukarkan
dalam acara manganan.
Adat kebudayaan yang beraneka ragam di Indonesia khusunya yang ada di kabupaten Bojonegoro memang sangat beragam, diantara ragam tradisi it...


